konten 1
konten 2
konten 3

Rabu, 03 Desember 2014

Teori Vladimir Propp (Struktural Naratologis)





TEOR VIADIMIR PROPP (Struktural Naratologis)
Selain membahas masalah struktur pembangun berupaunsur intrinsik dan ekstrinsik, strukturalisme juga membahas struktur naratif cerita. Salah satu ahli yang menggeluti bidang ini adalah Vladimir Propp. Propp memulai dengan masalah pengklasifikasian dan pengorganisasian cerita rakyat. Propp secara induktif mengembangkan empat hukum yang menempatkan sastra rakyat atau fiksi pada pijakan baru. Karena inilah Vladimir Propp dikenal sebagai cikal bakal struktural naratologis (Herman & Vervaeck, 2005: 52). Keempat hukum tersebut sebagai berikut.
1.       Fungsi karakter (tokoh) sebagai sebuah penyeimbang, elemen-elemen tetap dalam sebuah cerita, tidak bergantung kepada bagaimana atau karena siapa mereka terpenuhi. Elemen-elemen tersebut membentuk komponen-komponen fundamental sebuah cerita.
2.       Jumlah fungsi yang dikenal dalam cerita peri terbatas.
3.       Rangkaian fungsi itu selalu identik.
4.      Semua cerita peri terdiri atas satu tipe jika dilihat dari strukturnya.
Dalam membandingkan semua fungsi cerita-cerita tersebut, Propp menemukan bahwa jumlah keseluruhan fungsi tidak lebih dari tiga puluh satu fungsi. Fungsi-fungsi tersebut disusun sebagai berikut.
1.  Salah satu anggota keluarga hilang/pergi dari rumah.
2.  Larangan ditujukan pada sang pahlawan.
3.  Larangan dilanggar.
4.  Penjahat berusaha mengintai.
5.  Penjahat menerima informasi tentang korbannya.
6.  Penjahat berusaha menipu korbannya untuk menguasai korban atau (harta) milik korban.
7.  Korban tertipu dan tanpa sadar membantu musuhnya.
8.  Penjahat membahayakan atau melukai seorang anggota keluarga.
9.  Kemalangan atau kekurangan diketahui.
10. Pencari setuju atau memutuskan untuk mengatasi halangan.
11. Pahlawan meninggalkan rumah.
12. Pahlawan diuji, diinterogasi, diserang, dsb. dalam proses mendapatkan alat (agent) sakti atau penolong.
13. Pahlawan mereaksi tindakan donor masa depan.
14. Pahlawan memperoleh kekuatan alat sakti.
15. Pahlawan dipindah, dikirim, atau digiring/dituntun kemana-mana dalam pencarian objek.
16. Pahlawan dan penjahat terlibat perang langsung.
17. Pahlawan mendapat nama (terkenal)
18. Penjahat dikalahkan
19. Kemalangan atau kekurangan awal berhasil dimusnahkan.
20. Pahlawan kembali.
21. Sang pahlawan dikejar.
22. Penyelamatan pahlawan dari kejaran.
23. Pahlawan – yang tidak dikenali – pulang atau pergi ke negeri lain.
24. Seorang pahlawan palsu menyatakan tuntutan (claim) yang tidak berdasar.
25. Sebuah tugas yang sulit diajukan pada sang pahlawan.
26. Tugas berhasil dipecahkan.
27. Sang pahlawan dikenali.
28. Pahlawan palsu atau penjahat terungkap.
29. Pahlawan palsu diberikan tampilan baru.
30. Penjahat dihukum.
31. Pahlawan menikah dan bertakhta.
Propp menyebut tujuh fungsi pertama sebagai unit persiapan. Komplikasi ditandai dengan nomor 10. Komplikasi diikuti dengan perpindahan, perjuangan, kembali (kepulangan), dan pengenalan. Sebagai tambahan dari tiga puluh satu fungsi tersebut, Propp menambah tujuh “putaran aksi” (spheres of action). Ketujuhnya disusun sebagai berikut.
1. Penjahat.
2. Donor (penyedia).
3. Penolong.
4. Putri dan ayahnya.
5. Utusan (dispatcher)
6. Pahlawan (pencari atau korban)
7.  Pahlawan palsu

Propp lengkapnya Vladimir Jakovlevic Propp, lahir 17 April 1895 di St. Petersburg, Jerman adalah seorang peneliti sastra berkenalan dengan kaum formalis, Propp  bukanlah seorang formalis (bdk. Eagleton, 1988:115; yang pada masa 1920-an banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh  Formalis Rusia. Meskipun banyak (Jefferson, 1988:54 ). Dikatakan demikian karena ketika Formalisme Rusia sedang mangalami krisis (menjelang tahun 1930), ia justru memunculkan semacam poetika baru dalam hal pengkajian dan penelitian sastra.
Hal itu dapat dibuktikan melalui buku Morphology of the Folktale (1975).
Dapat
di katakana bahwa buku itu merupakan hasil dekonstruksi Propp terhadap teori-teori yang berkembang sebelumnya. Propp (1975:3--18) berpendapat bahwa para penelitise belumnya banyak melakukan kesalahan dan sering membuat simpulan yang tumpang tindih.
Selainitu, sedikit banyak teori  Propp juga mendekonstruksi teori formalis. Kalau Formalis memenekankan perhatiannya pada penyimpangan (deviation) melalui unsure naratif fibula dan suzjet dalam karya-karya individual untuk mencapai nilai kesastraan (literariness) sastra, Propp lebih menitik beratkan perhatiannya pada motif naratif yang terpenting, yaitu tindakan atau perbuatan (action), yang selanjutnya disebut fungsi (function).Propp menyadari bahwa suatu cerita pada dasarnya memiliki konstruksi. Konstruksi itu terdiri atas motif-motif yang terbagi dalam tiga unsur, yaitu pelaku, perbuatan, dan penderita (lihatjuga: Junus, 1983:63). Ia melihat bahwa tiga unsure itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur yang tetap dan unsur yang berubah.
Unsur yang tetap adalah perbuatan, sedangkan unsur yang berubah adalah pelaku dan penderita. Bagi Propp, yang terpenting adalah unsur yang tetap. Sebagai contoh, yang terpenting di dalam konstruksi "raksasa menculik seorang gadis" adalah perbuatan  atau tindakannya, yaitu "menculik", karena tindakan itu dapa tmembentuk satu fungsi  tertentu dalam cerita. Seandainya tindakan itu diganti dengan tindakan lain, fungsinya akan berubah. Tidak demikian jika yang diganti adalah unsure pelaku atau penderita.
Penggantian unsure pelaku  dan penderita tidak mempengaruhi fungsi perbuatan dalam suatu konstruksi tertentu. Dilihat dari contoh tersebut, jelas bahwa teori Propp diilhami oleh  strukturalisme dalam ilmu bahasa (linguistik) sebagaimana dikembangkan oleh Saussure.Berdasarkan penelitiannya terhadap seratus dongeng Rusia, yang disebutnya fairytale, Propp (1975:21--24) akhirnya memperoleh simpulan (1) anasir yang mantap dan tidak berubah dalam sebuah dongeng bukanlah motif atau pelaku, melainkan fungsi, lepas dari siapa pelaku yang menduduki fungsi itu, (2) jumlah fungsi dalam dongeng terbatas, (3) urutan fungsi dalam dongeng selalu sama, dan (4) dari segi struktur semua dongeng hanya mewakili satu tipe (lihat juga: Teeuw, 1984:291; Scholes, 1977:63).
Sehubungan dengan simpulan (2), Propp menyatakan bahwa paling banyak sebuah dongeng terdiri atas 31 fungsi. Namun, ia juga menyatakan bahwa setiap dongeng tidak selalu mengandung semua fungsi itu karena banyak dongeng yang ternyata hanya mengandung beberapa fungsi. Fungsi-fungsi itulah, berapa pun jumlahnya, yang membentuk kerangka pokok cerita. Tiga puluh satu fungsi yang dimaksudkan oleh Propp  adalah seperti di bawah ini. Untuk mempermudah pembuatan skema, Propp member tanda atau lambing khusus pada setiap fungsi (barangkali, kalau  kita mengganti lambing itu sesuai dengan keinginan kita, tentu juga tidak ada salahnya.Fungsi-fungsi dan lambang-lambang yang dicantumkan ini hanya terbatas pada yang pokok saja. Menurut Propp (1975:79--80), jumlah tiga puluh satu fungsi itu dapat didistribusikan ke dalam lingkaran atau lingkungan tindakan (speres of action) tertentu. Ada tujuh lingkungan tindakan yang dapat dimasuki oleh fungsi-fungsi yang tergabung secara logis, yaitu (1) villain 'lingkungan aksi penjahat', (2) donor, provider 'lingkungan aksi donor, pembekal', (3) helper 'lingkungan aksi pembantu', (4) the princess and her father 'lingkungan aksise orang putri dan ayahnya', (5) dispatcher 'lingkungan aksi perantara (pemberangkat)', (6) hero 'lingkungan aksi pahlawan', dan (7) false hero 'lingkungan  aksi pahlawan palsu' (lihat juga: Hawkes, 1978:91; Scholes, 1977:104; Schleifer, 1987:96).
Melalui tujuh lingkungan tindakan (aksi) itulah frekuensi kemunculan pelaku dapat dideteksi dan cara bagaimana watak pelaku diperkenalkan dapat diketahui.Demikian selintas tentang teori (naratologi) struktural versi Vladimir Propp. Kendati dalam perkembangan selanjutnya Propp banyak dikecam oleh peneliti lain, di antaranya oleh Guipen dari Belanda (Teeuw, 1984:293), sebagian dari konsep  teorinya tetap menjadi pegangan mereka.Harusdiakuibahwaternyataparaahliseperti Bremond, Greimas, Levi-Strauss, Souriau, Todorov, bahkan juga Roland Barthes, banyak memanfaatkan konsep yang telah dihasilkan Propp. Namun, dalam perkembangan terakhir, Propp tidak konsekuen pada prinsipnya sendiri. Ia semula menolak adanya pendekatan historik, tetapi kemudian ia kembali ke orientasi historik. Hal itu dapat dibuktikan melalui bukunya Theory and History of Folklore (1984) yang merupakan kumpulan karangan menjelang akhir hayatnya (1970).




DAFTAR PUSTAKA


Herman, Luc & Bart Vervaeck. 2005. Handbook of Narrative Analysis. Lincoln & London: University of Nebraska Press
Scholes, Robert. 1973. Structuralism in Literature. New Haven dan London: Yale University Press
http://suwondotirto.blogspot.com/2008/11/studi-sastra_18.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar