konten 1
konten 2
konten 3

Kamis, 04 Desember 2014

Zaman Islam



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Islam adalah salah satu agama lama di dunia yang masuk ke ranah Nusantara melalui akulturasi-akulturasi dengan berbagai agama dan kebudayaan kuno yang sudah terlebih dahulu mengakar di Indonesia, sehingga kemunculannya dapat lebih diterima oleh masyarakat. Agama Islam menurut kodratnya memiliki karakteristik untuk mengembangkan kebudayaan progresif. Karena kebudayaan  progresif menurut Sutan Takdir Alisyahbana lebih banyak mendasarkan hasil-hasil konkret menurut rasio dan perhitungan.Yakni kebudayaan yang nilai ilmu dan ekonominya amat tinggi. Hal ini berbeda dengan kebudayaan ekspresif yang dikembangkan oleh agama-agama timur dimana nilai agama dan nilai seni yang terasa lebih mendominasi. Kebudayaan ekspresif menurut Sutan Takdir Alisyahbana lebih banyak mendasarkan hasil kebudayaannya menurut perasaan, intuisi, dan imajinasi.
Pembagian Sutan Takdir Alisyahbana tersebut diatas berlaku pula bagi sastra karena sastra merupakan bagian dari kebudayaan. Sastra progresif adalah sastra yang memuat inti pengajaran dengan cukup rasional dan ilmiah. Sebaliknya, sastra ekspresif isi ajarannya lebih mengutamakan daya khayali.
Agama Islam dengan konsep ijtihadnya memang mengembangkan sastra yang progresif, karena ijtihad merupakan penerapan rasional ilmiah untuk menggali dan meluruskan pengembangan ajaran Islam. Para mujtahid menolak keras setiap pengembangan dan penafsiran agama Islam yang menyimpang maupun yang kaifiatnya neka-neka sebagai bid’ah atau kurafat. Dan sistem ijtihad atas dasar kaidah– kaidah ilmiah dan rasional ini kemudian berkembang dan menjadi canggih sesudah menyerap unsur-unsur kebudayaan Yunani Purba yang progresif. Maka dari abad ke-8 hingga abad ke-12 Masehi sastra budaya Islam berkembang menjadi canggih dan amat kaya hampir di segala bidang ilmu agama.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah awal proses masuknya Islam ke Indonesia?
2.      Apa saja jenis karya sastra lama Indonesia yang mendapat pengaruh Islam?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Memberi pemaparan mengenai proses masuknya Islam ke Indonesia berdasarkan teori-teori yang diasumsikan
2.      Memberi pebjelasan mengenai karya-karya sastra lama di Indonesia yang mendapat pengaruh Islam Arab-Persi.
1.4  Manfaat Penulisan
1.      Mengetahui sejarah internalisasi Islam di Indonesia menurut berbagai teori serta bukti maupun kronik-kronik yang ditemukan
2.      Mengetahui hasil karya sastra lama Indonesia yang dikenal mendapat pengaruh Islam.






















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia
Proses awal masuknya Islam ke Indonesia memang belum dapat dipastikan secara tepat mana teori yang benar-benar mengemukakan tentang penyebaran Islam di Indonesia untuk pertama kali. Beberapa teori yang menjabarkan proses masuknya Islam di Indonesia antara lain adalah:
1.      Teori Persia yang dikemukakan oleh P. A. Husein Djajadiningrat. Alasannya adalah karena adanya kesamaan antara kebudayaan Nusantara dengan Persia.
2.      Teori Gujarat yang dikemukakan oleh W. F. Stutterheim. Pendapat ini sesuai dengan bukti yang ditemukan yaitu nisan Sultan Malik Al Saleh yang memilki kesamaan dengan nisan di Gujarat (India) sehingga diperkirakan telah ada hubungan antara Gujarat dengan Samudra Pasai.
3.      Teori Arab yang dikemukakan oleh Hamka. Alasan pendapatnya adalah masyarakat Nusantara pada mulanya masuk Islam dan menganut mazhab Syafi’i yang merupakan mazhab yang sangat terkenal di Arab. Selain itu, di Sumatra telah ada perkampungan orang Arab.
4.      M. C. Ricklefs dari Australian National University menyebutkan 2 proses masuknya Islam ke nusantara yaitu :
a.       Penduduk pribumi mengalami kontak dengan agama Islam dan kemudian menganutnya.
b.      Orang-orang asing (Arab, India, Cina) yang telah memeluk agama Islam tinggal secara tetap di suatu wilayah Indonesia, kawin dengan penduduk asli, dan mengikuti gaya hidup lokal sedemikian rupa sehingga mereka sudah menjadi orang Jawa, Melayu, atau suku lainnya.
5.      Teori lain seputar masuknya Islam dari Timur Tengah ke nusantara diajukan Supartono Widyosiswoyo. Menurutnya, penetrasi tersebut dapat digolongkan menjadi 3 golongan yaitu :
a.       Jalur Utara adalah proses masuknya Islam dari Persia dan Mesopotamia. Dari sana, Islam beranjak ke timur lewat jalur darat Afganistan, Pakistan, Gujarat, lalu menempuh jalur laut menuju Indonesia. Lewat Jalur Utara ini, Islam tampil dalam bentuk barunya yaitu aliran Tasawuf. Dalam aliran ini, Islam dikombinasikan dengan penguatan pengalaman personal dalam pendekatan diri terhadap Tuhan. Aliran inilah yang secara cepat masuk dan melakukan penetrasi penganut baru Islam di nusantara. Aceh merupakah salah satu basis persebaran Islam pada Jalur Utara ini.
b.      Jalur Tengah adalah proses masuknya Islam dari bagian barat lembah Sungai Yordan dan bagian timur semenanjung Arabia (Hadramaut). Dari sini Islam menyebar dalam bentuknya yang relatif asli, di antaranya adalah aliran Wahabi. Pengaruh terutama cukup mengena di wilayah Sumatera Barat. Ini dapat terjadi oleh sebab dari Hadramaut perjalanan laut dapat langsung sampai ke pantai barat pulau Sumatera.
c.       Jalur Selatan pangkalnya adalah di wilayah Mesir. Saat itu Kairo merupakan pusat penyiaran agama Islam yang modern dan Indonesia memperoleh pengaruh tertama dalam organisasi keagamaan yang disebut Muhammadiyah. Kegiatan lewat jalur ini terutama pendidikan, dakwah, dan penentangan bid’ah.
6.      Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia. Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalahan waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.
Selain teori-teori tersebut, terdapat juga sumber-sumber sejarah yang terdiri dari kronik luar negeri dan kronik dalam negeri yang mengemukakan proses datang dan masuknya Islam menjadi agama di Indonesia.
2.1.1        Kronik Luar Negeri
a.       Kronik Cina Masa Dinasti Tang
Sejak abad ke-5 Masehi pedagang Arab telah menjalin kontak dengan pedagang Cina. Rute dagang bahari pedagang Cina-Arab ini tentunya melintasi perairan Indonesia. Karena itu, orang-orang Arab dipastikan telah mengenal masyarakat Indonesia bahkan mungkin juga kebudayaannya sejak abad ke-5, yang ketika itu agama Islam pun belum lahir. Selanjutnya pada abad ke-7 Masehi, para pedagang Islam dari Persia dan India telah melakukan kontak dagang di sejumlah pelabuhan di Indonesia. Aktivitas dagang ini semakin ramai sejak Dinasti Umayyah berkuasa. Perdagangan dilakukan oleh Bani Umayyah dengan Dinasti Tang melalui Selat Malaka. Perdagangan itu melibatkan Indonesia karena kawasan ini dilalui oleh pedagang-pedagang Asia Barat sebelum dan sepulang dari Cina. Antara abad ke-7 dan 8 Masehi telah ada pemukiman-pemukiman muslim di wilayah Baros, pantai barat Sumatera, pesisir utara Jawa dan Maluku, dan Kanton, Cina Selatan.
Masih menurut berita Cina bahwa pada tahun 977 Masehi, sebuah kerajaan Islam di Indonesia telah mengirim utusannya ke Cina. Kerajaan ini bernama Poni, dan utusannya bernama Pu Ali. Hingga sekarang data-data mengenai eksistensi Kerajaan Poni belum ditemukan. Pada tahun 1281 Kerajaan Melayu-Jambi mengirim dua utusannya ke Cina yang masing-masing bernama Sulaiman dan Syamsuddin─keduanya adalah nama Islam.
b.      Catatan Marcopolo
Marcopolo mengemukakan bahwa pada tahun 1292 ia singgah ke Kerajaan Samudera Pasai. Dia juga menyatakan adanya masyarakat muslim di daerah Perlak pada sekitar abad ke-13 Masehi.
c.       Buku Suma Oriental karya Tome Pires
Seorang musafir berkebangsaan Portugis bernama Tome Pires ini mencatat secara lengkap penyebaran Islam di Nusantara antara lain di daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa, sampai Maluku pada abad ke-16 Masehi. Tome Pires pernah singgah di Malaka, Sumatera, dan Jawa. Ia meninggalkan Kepulauan Indonesia sekitar tahun 1515 Masehi. Tome Pires menulis kronik lain yang berjudul Portuguese Relacion
2.1.2        Kronik Dalam Negeri
Berbeda dengan sumber-sumber luar negeri, sumber-sumber lokal kebanyakan berbentuk kesusasteraan. Kitab-kitab yang memuat informasi tersebut banyak bentuknya. Di Melayu, Sumatera, dan Kalimantan, biasanya berbentuk hikayat. Sementara di Jawa, seperti di Banten, Cirebon, Demak, Mataram, biasanya berbentuk babad, kitab sejarah, kidung, carita, atau serat.
Bila kronik luar negeri ditulis oleh nama dan tahun yang jelas, maka sumber-sumber local banyak yang tak memiliki nama penulisnya (anonim). Sering sebuah karya dicatat oleh lebih dari satu orang. Kebanyakan kitab tersebut berbahasa Melayu dan Jawa serta beraksara Arab gundul atau Jawi. Selain tak mencantumkan nama penulis, kitab-kitab tersebut acap kali tak mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun yang pasti.
Beberapa bukti lain yang mengemukakan masuknya pengaruh Islam di Indonesia antara lain adalah:
1.      Abad ke-11, Islam mulai masuk ke Jawa Timur. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya batu nisan Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 1082 M di Leran, Tuban.
2.      Abad ke-13, Islam berkembang di sumatra terutama di Perlak dan Aceh. Bukti-buktinya adalah sebagai berikut.
a.       Ditemukan batu nisan Sultan Malik Al Saleh yang berangka tahun 635 H (1297 M) yang merupakan raja Aceh yang pertama masuk Islam.
b.      Catatan Ibnu Batutah, orang dari Maroko yang singgah di Samudra Pasai pada tahun 1345 sampai 1346 M. Ia menceritakan bahwa raja Samudra Pasai menganut madzhab Syafi’i dan giat menyebarkan agma Islam.
3.      Abad ke-15 M. Hal ini dibuktikan dengan:
a.       Catatan Ma Huan, seorang musafir Cina yang menceritakan bahwa masyarakat Pantai Utara Jawa Timur telah memeluk  Islam.
b.      Pemakaman Muslim kuno di Trowulan dan Tralaya di dekat Mojokerto yang membuktikan adanya bangsawan Majapahit yang telah memeluk Islam pada masa Hayam Wuruk.
4.      Pada permulaan abad ke-16 M Ludico Barthema (Italia) pernah mengunjungi beberapa tempat di Indonesia. Dalam catatannya ditulis bahwa para raja dan penduduk daerah yang dikunjungi semuanya sudah beragama Islam.
2.2  Karya Sastra Pengaruh Islam
Akhir abad ke-16 hingga abad ke-17 Masehi pengaruh sastra budaya Islam baru nampak. Dalam proses awal internalisasinya dengan sastra Melayu yang memang sebelumnya telah berkembang di Indonesia, Islam diterima sebagai unsur pendukung yang memperkaya, mendinamisisasi, serta mengangkat derajat sastra Melayu menjadi cukup canggih. Maka dalam perkembangan selanjutnya, terjadi akulturasi sekaligus integrasi yang kokoh antara tradisi sastra Melayu dan Islam, laksana pinang dibelah dua, yakni Islam yang Melayu, dan sebaliknya Melayu yang Islam, keduanya laksana dua permukaan dari satu mata uang. Hal ini sangat berbeda dengan di Jawa. Di Jawa boleh dikatakan lebih dari tiga abad Islam dipandang sebagai agama dan budaya asing di lingkungan yang sebagian besar menganut tradisi dan budaya kerajaan Majapahit yang diperhalus dan dicanggihkan dengan unsur Hinduisme. Maka sejak awal kedatangannya, Islam harus disebarkan melalui daerah-daerah pinggiran di sepanjang pesisiran Pulau Jawa yang masyarakat agrarisnya boleh dikatakan masih buta huruf. Pada abad 16 Masehi daerah-daerah pedesaan ini mulai berhasil disulap oleh sastra budaya Islam jadi kerajaan pesisir, seperti Kesultanan Demak, yang merupakan bukti kesultanan Islam terbesar dan tersohor setelah lengsernya Majapahit.
Makin meningkatnya kebesaran kerajaan Jawa-Hindu Majapahit ternyata menyadarkan  para cendekiawan dan sastrawan Jawa untuk menyadap ilmu dari sastra Jawa pesantrenan. Hasil pergulatan (interaksi) Islam dengan sastra budaya Jawa melahirkan dua bentuk sastra Jawa, yakni sastra Jawa pesantrenan dan sastra Islam–Kejawen, disamping sastra Arab pesantren. Hanya saja yang paling kaya-raya adalah sastra Islam-Kejawen, lantaran para pemikir dan sastrawan kelas satu memang masih didominasi para priyayi Jawa. Contoh sastra Jawa pesantrenan adalah Het Boek Bonang, gubahan kitab Tuhfah Musalah ila Ruh al-Nabi, gubahan kitab Hikam, kitab Fathurrahman, dan sebagainya.
Kembali pada arti abad 16 Masehi, yakni abad mulai munculnya sastra Melayu dan Jawa Islam. Pada abad ini agama Islam mendapat dukungan kekuasaan politik, walaupun di Jawa kemudian Islam dimanfaatkan untuk melegalisasi kekuasaan politik para raja Pajang dan Mataram, tetapi ketika memasuki abad 18 Masehi Islam telah menjadi lambang penyatuan bagi kerajaan-kerajaan Banten, Cirebon, dan wilayah kesultanan Demak hingga kesultanan Mataram. Para sastrawan Jawa manamakan berdirinya kesultanan Demak sebagai peralihan zaman, dari zaman Jawa-Hindu ke zaman Kewalen (zaman Jawa-Islam).
Abad 18 Masehi juga mempunyai arti yang amat penting bagi sejarah penyebaran Islam di Indonesia, yakni munculnya sastra Melayu dan sastra Jawa Islam. Adapun sastra Islam-Kejawen adalah unsur-unsur Islam yang disadap dan dipergunakan untuk memperkaya dan meningkatkan khazanah warisan sastra Jawa lama (sebelum kedatangan Islam). Pengelola sastra Islam-Kejawen adalah para sastrawan yang tergolong priyayi Jawa dan dikembangkan di lingkungan istana kesultanan Jawa-Islam, seperti Mataram, Cirebon, Banten dan sebagainya. Maka ciri yang menonjol dalam sastra Islam-Kejawen adalah muatan politik dan mistiknya yang amat kental, sebaliknya muatan-muatan agama atau syariatnya amat kering. Hal ini dapat dimengerti kalau dibaca dalam kaitannya dengan suasana sosial politik yang melingkupi kehidupan para pujangga dan sastrawan Jawa masa itu. Pengaruh Hinduisme itu yang mengakar dalam adalah di lingkungan istana kerajaan Jawa, sedang masyarakat pedesaan tetap hidup dalam religi animisme-dinamisme, sedikit sekali sentuhan konsep-konsep Hinduismenya (Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, hal. 33).
Maka dapat dimengerti bahwa nilai-nilai dasar Hinduisme yang dapat mengangkat suku bangsa Jawa untuk mengakhiri atau menutup zaman prasejarah dan zaman buta aksara mereka. Maka dalam menghadapi zaman baru (zaman Islam), mereka memilih menyerap dan mengolah unsur-unsur yang dapat memperkokoh dan meningkatkan nilai-nilai dasar Hinduisme-Kejawen tersebut.
Beberapa contoh akulturasi antara kebudayaan Hindu-Islam adalah:
a.       Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Lukmanul Hakim, dan lain-lain.
b.      Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
c.       Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
d.      Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik atau buruk.
2.3  Hikayat Nabi Muhammad
Pengaruh kesusasteraan Islam sangat besar masuk ke hati rakyat Indonesia. Untuk mengetahui ajaran Islam, orang harus mempelajari firman-firman Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW. Namun untuk mempermudah penerimaan masyarakat atas kebudayaan ini, maka terjadilah akulturasi kebudayaan Hindu-Islam, yaitu beberapa cerita yang bercorak Hindu diubah menjadi Islam.
Sumber hikayat Nabi Muhammad adalah Tarikh Nabi yang berbahasa Arab kemudian disalin ke dalam bahasa Persi, dan baru masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Sumber lain adalah Hadith, yaitu semua catatan mengenai kehidupan nabi meliputi apa saja yang diperbuatnya dan juga apa-apa yang didiamkan oleh nabi (Asdi S. Dipodjojo, 1977:80).
Hikayat-hikayat yang termasuk dalam hikayat Nabi Muhammad langsung mencerminkan kehidupan nabi, yaitu:
a.       Hikayat Nur Muhammad
b.      Hikayat Nabi Adam
c.       Hikayat Mi’raj Nabi Muhammad
d.      Hikayat Nabi Bercukur
e.       Hikayat Bulan Berbelah
f.       Hikayat Nabi Mengajar Ali
g.      Hikayat Nabi Mengajar Anaknya Fatimah
h.      Hikayat Nabi Wafat
i.        Hikayat Iblis dan Nabi Muhammad
j.        Hikayat Nabi dan Orang Miskin
2.4  Hikayat Para Sahabat Nabi
Nabi Muhammad dalam menyiarkan agama Islam dibantu oleh sahabat-sahabat yang setia, mereka berjuang penuh pengorbanan, gagah berani dalam setiap medan pertempuran. Misalnya Perang Badar, perang pertama umat muslim yang menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan karena prajurit muslim yang hanya berjumlah 300 orang mampu mengalahkan prajurit kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang.
Adapun contoh hikayatnya antara lain adalah:
a.       Perjuangan Sahabat terhadap Agama Islam
b.      Perang Badar
c.       Perang Khandak: Raja Khandak, ayah Raja Badar, anak Nabi Sulaiman
d.      Hikayat Raja Khandak
e.       Hikayat Raja Lahat
f.       Hikayat Raja Khaibar


2.5  Hikayat Pahlawan Islam
Hikayat-hikayat ini meriwayatkan bagaimana keadaan agama Islam pda awal perkembangannya, dan menggambarkan sifat keberanian dan kegagahan pahlawan perang. Fungsi hikayat ini adalah untuk mempertinggi semangat keberanian para prajurit.
Hikayat Amir Hamzah merupakan salah satu dari kisah hikayat yang disebut dalam Sejarah Melayu, semasa pertahanan Malaka dari serangan Portugis, hikayat ini dikatakan telah diberikan oleh Sultan Melaka untuk dibacakan bagi menaikkan semangat pahlawan Melayu. Oleh itu ia jelas menunjukkan kehadirannya sebelum 1511 lagi. Dalam versi bercetak edisi 1987 terdapat 245,273 perkataan di dalamnya.
Kisah pada malam sesudah Feringgi melancarkan serangannya yang pertama ke atas Melaka, seperti yang tersebut di bawah ini.
Maka Sultan Ahmad pun menghimpunkan orang, dan suruh berhadir senjata. Maka hari pun malamlah, maka segala hulubalang dan segala anak tuan-tuan semuanya bertunggu dibalai rong. Maka kata segala anak tuan-tuan itu, Apa kita buat bertunggu dibalai rong diam-diam sahaja? Baik kita membaca hikayat perang, supaya kita beroleh faedah daripadanya. Maka kata Tun Muhammad Onta, benar kata tuan-tuan itu, baiklah Tun Indera Sagara pergi memohonkan Hikayat Muhammad Hanafiah, sembahkan mudah-mudahan dapat patik-patik itu mengambil faedah daripadanya. Kerana Feringgi akan melanggar esok hari. Maka Tun Indera Sagara pun masuk mengadap Sultan Ahmad. Maka segala sembah orang itu semuanya dipersembahkannya kebawah duli Sultan Ahmad. Maka oleh Sultan Ahmad dianugerahi Hikayat Amir Hamzah, maka titah Sultan Ahmad pada Tun Indera Sagara, katakan kepada segala anak tuan-tuan itu, hendak pun kita anugerahkan Hikayat Muhammad Hanafiah, takut tiada akan ada berani segala tuan-tuan itu seperti Muhammad Amir Hamzah pun padalah maka kita beri Hikayat Hamzah. Maka Tun Indera Sagara pun keluarlah membawa Hikayat Hamzah, maka segala titah Sultan Ahmad itu semuanya disampaikannya pada segala anak tuan-tuan itu, maka semuanya diam, tiada menyahut. Maka kata Tun Isap pada Tun Indera Sagara, persembahkan ke bawah duli yang dipertuan, seperti Muhammad Hanafiah, patik-patik itu adalah seperti hulubalang berani. Maka oleh Tun Indera Sagara segala kata Tun Isap itu semuanya dipersembahkannya kepada Sultan Ahmad, maka baginda pun tersenyum maka titah Sultan Ahmad, benar katanya itu. Maka dianugerahi pula Hikayat Muhammad Hanafiah.

2.6  Hikayat Amir Hamzah
Hikayat ini mengisahkan keberanian dan kegagahan Sayyidina Hamzah yang memimpin tentara Islam melawan tentara kafir Mekkah.
Amir Hamzah adalah salah seorang paman Nabi Muhammad yang menyiarkan agama Islam di Mekkah dan Madinah. Dalam peperangan melawan kafir Mekkah di Bukit Uhud (±3 mil utara Madinah), ia tewas. Perang ini disebut Perang Uhud dan terjadi pada tahun 652 Masehi.
Hikayat Amir Hamzah ada dalam bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Bugis, Bali, dan Sasak.
Dalam bahasa Jawa terkenal dengan nama Serat Menak dengan tokohnya yaitu Wong Agung Menak (Amir Hamzah). Namun Hikayat Menak atau Hikayat Amir Hamzah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan cerita Menak Jingga. Karena Menak Jingga adalah Raja Blambangan yang datang melanggar kerajaan Ratu Kencana Wungu, ratu Majapahit. Akhirnya dengan pertolongan Dhamarwulan, Raja Blambangan dapat dikalahkan. Peperangan Menak Jingga dengan Dhamarwulan sangat terkenal di Jawa.
Di Bali dikenal Cerita Malat, khususnya hanya di Karangasem, melalui wayang sasak. Sementara cerita Amir Hamzah di Jawa dimainkan dengan media wayang golek.
Asal cerita Amir Hamzah dari Persi, berdasarkan desertasi Dr. Van Ronkel, “De Roman Van Amir Hamzah”. Kemudian dalam bahasa Hindustan dan Tamil, Hikayat Amir Hamzah disebut Qissah Amir Hamzah dan dalam bahasa Turki disebut dengan Hamzah Nameh.
2.7  Hikayat Raja Khandak
Hikayat ini menceritakan tentang keberanian dan kegagahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang merupakan suami dari Fatimah Azzahra, putri Rasulullah.
Suara Ali seperti halilintar, pedangnya Zulfakar sangat tajam, dan kudanya Duldul dapat berlari sangat cepat.
Ali merupakan pengikut pertama Nabi Muhammad disamping Khadijah, istri Nabi. Ia diangkat sebagai khalifah Islam yang keempat, tetapi tidak diakui oleh Mu’awiah dan pengikut-pengikut Bani Umayyah. Ali ditikam oleh orang upahan Mu’awiah. Selain berputra Hasan dan Husain (dari Fatimah), ia juga berputra Muhammad Ali Hanafiah (dari istri yang lain).
2.8  Hikayat Muhammad Ali Hanafiah
Hikayat ini mengisahkan Nur Muhammad; kisah keputeraan dan riwayat hidup Nabi Muhammad; kisah keluarga nabi; perkawinan Fatimah dengan Ali dan lahirnya Hasan dan Husain; kisah Rasulullah wafat yang diikuti Fatimah, Abu Bakar, Umar, dan Usman; Ali menjadi khalifah ditentang Mu’awiah. Ali ditikam, dan menyuruh Hasan dan Husain untuk membuang pedang Zulfakar. Jenazah Ali dan kudanya gaib.
Selanjutnya diceritakan kisah Yazid, anak Mu’awiah yang memusuhi Hasan dan Husain. Hasan diracun, Husain gugur di medan peperangan. Sesudah itu baru diceritakan tentang M. Ali Hanafiah yang membalas kematian saudara-saudaranya. Kota Damaskus diserang, Jazid jatuh ke telaga. Zainal Abidil, putra Husain dijadikan raja di Damaskus.
Akhir cerita, Ali Hanafiah tertutup di gua batu bukit Jabal Nur, ketika mengejar pengikut Jazid, walaupun sudah mendengar suara gaib agar tidak melakukan pembunuhan. Suara itu tidak dihiraukan, akhirnya pintu gua tertutup.
2.9  Hikayat Iskandar Zulkarnain
Hikayat ini saduran dari cerita Arab karangan Al-Suri. Disadur dalam berbagai bahasa. Dalam Sejarah Melayu, tersisip petikan Hikayat Iskandar Zulkarnain yang dihubungkan dengan raja-raja Melayu bahwa mereka adalah keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain.
Menurut sejarah, Iskandar (Alexander de Great) adalah putra Philip II, Raja Macedonia tahun 356-323 SM. Ia dikenal sebagai ahli politik yang bijaksana dan panglima andalan. Jasanya adalah dia membuka bandar pelabuhan Iskandariah di muara Sungai Nil.
Terdapat perbedaan mengenai riwayat Iskandar Zulkarnain dari segi sejarah dengan hikayat. Sejarah mengungkapkan bahwa Iskandar adalah putra dari Philip II, Raja Macedonia. Sementara hikayat menceritakan bahwa Iskandar adalah anak Raja Darab bangsa Rom, anak Gilas, anak Raja Dawab, bangsa Persi. Dalam Sejarah Melayu: Iskandar mengalahkan Raja Kida Hindi, menikah dengan Syahrul Bariyah (putri Kida Hindi). Penghulunya Nabi Khidir atas syariah Nabi Ibrahim dan muncul anak cucunya, yaitu raja-raja Melayu yang turun di Bukit Siguntang.


2.10          Contoh Sinopsis Karya Sastra Lama “Hikayat Raja Syaif Zulyazan
Hikayat Raja Syaif Zulyazan menceritakan Raja Syaif Zulyazan yang memerintah di Negeri Medinah Ahmarah. Sebenarnya ia adalah putra Raja Tuba’a Zulyazan dari Yaman dari hasil perkawinannya dengan Komariah, seorang budak Habsyi. Karena khawatir kerajaannya direbut oleh anaknya, Komariah membuang Syaif Zulyazan ketika ia masih berumur 40 hari di hutan. Bayi itu kemudian ditemukan oleh seorang pemburu dan selanjutnya diserahkan kepada Raja Malikul Afrah, bayi itu kemudian diberi nama Wahsa Alfalah. Semula Wazir Sakardiwan menasehati Raja Malikul Afrah karena pada pipi kedua bayi itu ada tanda yang sama, yaitu warna bijau. Akan tetapi RajaMalikul Afrah tidak bersedia menjalankan saran Wazir Sakardiwan.Ia tetap memelihara kedua anak itu itu sampai dewasa.
Menjelang dewasa, Wahsa Alfalah dikirimkan oleh Raja Malikul Afrah berguru ilmu pedang kepada seorang ahli. Kemudian setelah dewasa Wahsa Alfalah melamar Sitti Syamah. Atas nasehat Wazir Sakardiwan, Wahsa Alfalah diminta lebih dahulu membinasakan kepala perampok yang bernama Sa’dun Al Zanji dan mendapat kitab Tarikh Alfalah. Dengan keberanian dan kesaktiannya, Wahsa Alfalah dapat memenuhi semua persyaratan itu. Akhirnya Wahsa Alfalah hidup bahagia dan memerintah di Negeri Median Ahmarah setelah jin Aksah berhasil membunuh Komariah.
Seperti halnya dengan cerita fiksi Islam yang lain, Hikayat Raja Syaif Zulyazan sarat dengan ajaran hidup. Ajaran hidup yang patut diteladani itu, antara lain ketika Raja Malikul Afrah dengan penuh kebijaksanaan tidak menuruti saran Mazir Sakardiwan untuk membunuh kedua bayi itu, yaitu Wahsa Alfalah dan Sitti Syamah. Sebagai seorang raja, yang dapat dianggap sebagai kalifatullah di atas bumi ini, Raja Malikul Afrah mencoba untuk berpikir rasional.
Walaupun pada waktu itu kebiasaan membuang atau membunuh anak lazim dilakukan oleh raja-raja atau pembesar istana Raja Malikul Afrah tidak melakukan perbuatan keji itu. Perbuatannya yang bijak ini juga mencerminkan ketakwaan dan keimanannya kepada Allah SWT.Keputusan yang diambilnya saat itu tidak salah.Wahsa Alfalah setelah dewasa ternyata menjadi seorang pemuda tampan yang baik budi, berani, ulet, dan bertanggung jawab. Syarat yang diajukan oleh Wazir Sakardiwan untuk membunuh kepala perampok Sa’dun al Zanji dan mencuri Tarikh Alfalah dipenuhinya setelah ia berjuang keras dan menghadapi bahaya yang menghadangnya.





























BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Ada beberapa teori yang diyakini merupakan pembuktian tentang masuknya Islam di nusantara. Dari berbagai teori tersebut yang paling banyak dikenal oleh masyarakat sebagai asumsi yang paling tepat dari proses masuknya Islam ke Indonesia adalah teori Gujarat, yang menyatakan bahwa agama Islam masuk melalui adanya hubungan dagang dengan Indonesia.
Berbagai karya sastra lama di Indonesia pada masa itu juga tidak terlalu mendasarkan pada ciri yang lebih spesifik, karena karya sastra lama Islam yang berkembang di Indonesia kebanyakan telah mengalami berbagai kombinasi dengan budaya Melayu serta Hinduisme yang lebih dulu muncul dan menyebar di kalangan masyarakat Indonesia. Sementara, hasil karya sastra lama itu sendiri ada yan berbentuk hikayat, ababd, suluk, dan lain-lain.
3.2 Saran

















DAFTAR PUSTAKA

Suryanegara, Mansur. 1998. Menemukan Sejarah. Bandung: Mizan.
Usan, Zuber. 1962. Kesusasteraan Lama Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.
http://koffieenco.blogspot.com

























LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar